Headlines News :
Home » » Ulama Indonesia

Ulama Indonesia

Written By Poetra Aswaja on Kamis, 31 Januari 2013 | Kamis, Januari 31, 2013




KH.. ABBAS
(1300-1365 H/ 1879 – 1946 )

KIAI HAJI ABBAS adalah seorang Ulama’ dan pejuang pemberani dari Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Ulama KH.arismatik ini banyak memberikan gemblengan ( ilmu untuk kekbalan menghadapi musuh ) dalam perjuanganya merebut dan mempertahankan kemerdekaan, yang banyak diikuti oleh pejuang – pejuang muda saat itu.  Disamping keahlianya dalam ilmu beladiri, tenaga dalam dan kesaktian, ulama ini juga termasuk dalam jajaran pengasuh Pondok Pesantren dengan jumlah santri ribuan orang.

Beliau yang juga termasuk sebagai ulama ahli fikih dan ushul fikih ini juga memiliki wawasan yang luas, terutama dalam bidang perbandingan Mazhab dan masalah KH.ilafiyah, beliaujuga termasuk  sebagai penggerak pertama NU di Cirebon dan Jawa Barat. Diantara santrinya yang kemudian terkenal sebagai ahli fikih adalah Prof.DR.KH.. Ibrahim Husein, Rektor IIQ Jakarta dan ketua Majelis Fatwa MUI.

KH. Abbas dilahirkan di Desa Pekalangan, Cirebon, tanggal 24 Dzulhijjah 1300 H (1879M). Ayahnya adalah KH.. Abdul Jamil bin KH.. Muta’ad. KH.. Muta’ad sendiri merupakan menantu dari dari KH.. Muqoyyim, pendiri Pondok Pesantren Buntet, Cirebon. Berarti KH.. Abbas ini merupakan cicit dari pendiri Pesantren Buntet dari jalur neneknya.
Sebagai putra seorang ulama, beliau mendapatkan pendidikan keislaman sejak kanak kanak dari ayahnya sendiri. Setelah mempelajari sendi sendi agama, Abbas menginjak usia remaja mulai merantau untuk mengaji di berbagai Pondok Pesantren. Pertama kali beliau mengaji di Pesantren Sukanasari, Plered, Cirebon, yang diasuh Kiai Nasuha.
Selanjutnya beliau mengaji di Pesantren Jatisari, dibawah asuhan KH.. Hasan . setelah menyelesaikan pendidikanya di kedua Pesantren tersebut, pemuda Abbas melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beliau mengaji kepada Kiai Ubaidillah, Pengasuh Pondok Pesantren di Kabupaten Tegal.  Pemuda Abbas tertarik pada kealiman KH.. Hasyim Asy’ari, terutama dalam ilmu hadits, sehingga beliau memutuskan untuk mondok di Pesantren tebu ireng, jombang, dibawah asuhan Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari, yang usianya terpaut delapan tahun dari dirinya. Di Pesantren ini beliau mengaji bersama-sama dengan Abdul Wahab Hasbullah, Bisri Syansuri dan Abdul Manaf (Abdul Karim) yang berusia jauh lebih tua darinya serta beberapa santri lainya, yang nantinya menjadi ulama ulama besar.

Setelah mondok di tebu ireng, kiai muda ini melanjutkan pendidikanya ke tanah suci Mekah. Beliau sempat belajar kepada syeikh KH. Mahfudzh Attarmasi (asal tremas pacitan ) yang saat itu sudah berusia senja. Ulama ahli hadits ini adalah guru KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa ulama lain asal tanah melayu. Bersamaan saat kiai Abbas belajar kepada kiai mahfudzh, beliau juga belajar kepada kiai bakir
(Yogyakarta), Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Abdillah (Surabaya). Selama beberapa tahun beliau bermukim di Tanah suci Mekah al Mukaramah untuk menuntut ilmu, memperdalam ilmu-ilmu keislaman sekaligus juga mengajarkan kepada mukminin lainya yang datang dari tanah melayu. Diantara muridnya di mekah adalah Kiai Khalil Balerante, Palimanan dan Kiai Sulaiman Babakan Ciwaringin, yang kebetulan mereka juga berasal dari Cirebon.

Sebagai ulama besar, KH. Abbas banyak memberikan perhatian di bidang pendidikan islam. Sebelum mengasuh Pesantren Buntet, ketika mengaji di tebu ireng, beliau banyak membantu seniornya KH.. Abdul Manaf (Abdul Karim) dalam mendirikan Pondok Pesantren lirboyo, kediri (1909). Mbah Abbas dalam mengasuh santri yang berjumlah ribuan itu didampingi adik-adiknya, KH. anas(mursyid/KH.adam tarekat tijaniyah) dan KH. Akyas. Selanjutnya beliau juga banyak dibantu oleh putera-puteranya yang telah menjadi ulama muda seperti KH. mustamid Abbas, mustahdi abbaas dan KH. abdullah Abbas dan lain-lain.
Pesantern Buntet Cirebon tidak bisa dipisahkan dari jamiyah nahdlatul ulama. Pesantren ini dibawah KH. Abbas dan KH. anas merupakan pusat pengembangan nu pada awalnya untuk wilayah jawa barat, yang kemudian di ikuti oleh KH. Abdurrahman (Menes, Pandeglang Banten), KH. Junaidi (jakarta) serta KH. rukhiyat (Tasikmalaya). Karena itulah maka Muktamar NU ke-6, tanggal  12 Rabiul Tsani 1350 H (27 Agustus 1931 ) dilangsungkan di Pondok Pesantren Buntet Cirebon. Demikian pula untuk masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Peran yang diambil oleh nu saat itu berada dalam wadah Masyumi.

Menjelang akhir masa penjajahan Jepang, berdirilah PETA (pembela tanah air) yang pusat latihanya di Bogor. Disamping itu berdiri pula barisan Hizbullah, yang pusat latihanya di cibarusa (perbatasan bekasi dengan bogor). KH. Abbas ikut dalam latihan calon daidancho (komandan batalyon) Hizbullah dibawah pimpinan KH.. Zainul Arifin (konsul nu jakarta, panglima Hizbullah). Sepulang dari latihan, KH. Abbas yang berusia diatas 60 tahun ini mendirikan Hizbullah yang berpusat di Pesantren Buntet. KH. Abbas sebagai pimpina dibantu KH. anas, KH. Murtadlo, KH. Shaleh, KH. Mujahi, dan beberapa ulama lainya yang lebih muda, seperti KH. Abdullah Abbas dan KH. Hasyim Anwar. KH.. Abbas banyak mengajarkan ilmu bela diri, kedigdayaan (kesaktian), kekebalan dan ilmu-ilmu lain semancamnya kepada para santri dan para pejuan, KH.ususnya anggota Hizbullah yang kebanyakan dari ansor nahdlatul ulama (ANU). Agartidak mengganggu kegiatan belajar mengajar, maka urusan pendidikan dan pengajaran diserahkan kepada KH. anas.

Sebagai pusat organisasi dan perjuangan, tentu saja KH. Abbas beserta seluruh keluarga besar Pondok Pesantren Buntet selalu diawasi oleh penjajah saat itu. Hal ini bahkan sudah berjalan sejak lama, saat mbah muqoyyim mendirikan Pesantren ini (sekitar 1750) sampai dengan masa mbah Abbas, karena meereka memang anti penjajah.

Dengan pecahnya perang surabaya, khususnya pertempuran 10 November 1945, peran pemuda santri dalam perjuangan mempertahannkan kemerdekaan menjadi semakin signifikan. Mereka yang kebanyakan sudah pernah mengikuti gemblengan kekebalan dari berbagai ulama, termasuk kepada KH. Abbas sendiri. Hal ini menambah fakta bahwa peran KH. Abbas tidak bisa di sangsikan lagi, peranya dalam pertempuran surabaya sebagai pemberi gemblengan yang sengaja di minta secara khusus oleh Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari.  Hal ini sesuai dengan resolusi jihad yang diputuskan oleh ulama NU/ Masyumi dalam musyawarahnya di Pesantren 21-22 oktober 1945. KH. Abbas, walaupun sudah sepuh tidak hanya memberi komando dari belakang, tapi justru berada di depan pejuang lain. Beliau ikut serta melaksanakan penyerangan.

KH. Abbas wafat bukan karena gugur di medan perang, beliau menghembuskan nafas teraKH.irnya dikarenakan sakit yang menimpanya. Beliau wafat pada hari ahad, tanggal 1 rabiul awal 1365 H, sekitar bulan desember 1946. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Buntet, Cirebon. Walaupun ulama ini telah berpulang ke rahmatullah, tetapi jasa-jasanya kepada agama, bangsa dan negerinya tetap dilanjutkan oleh putera-putrinya serta para santri yang berada di wilayah Pesantren Buntet  dengan jumlah ribuan, mereka mewarisi tekad dari KH. Abbas seorang ulama besar dari tanah Cirebon yang mengabdikan hidupnya untuk agama, bangsa dan negerinya. Serta menjadi ulama yang disegani oleh masyarakat luas karena tingginya tingkat ilmu dan Kharisma yang dimilikinya.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Poetra Creating Website | Gus Ndezo Tok Wae | Radio Aswaja Fm Ponorogo
Proudly powered by Aswaja Center Ponorogo
Copyright © 2012. Berita Aswaja Fm Ponorogo - All Rights Reserved
Template Design by Poetra Creating Website Published by Sang Gagal Maksud